Limbah Kelapa Sawit yang Mencemari Lingkungan di Rembang, Jawa Tengah.

Jakarta, chronosradio.com -Dewan Pimpinan Pusat jaringan Pemerhati Industri dan Perdagangan (DPP JPIP)
dan DPN Kawal Lingkungan Hidup (KAWALI) melalui rilisnya, menyebutkan sudah melaksanakan serangkaian kajian, pengamatan dan diskusi bersamasama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dunia Usaha dan para pakar dan pemerhati Industri dan Perdagangan yang terkait mengenai pencemaran lingkungan hidup yang terjadi akibat pembuangan limbah kelapa sawit di Kabupaten
Rembang Jawa Tengah.

Dari hasil kajian dan pengamatan pada tahap awal yang sudah dilaksanakan, kami menyampaikan fakta, kesimpulan dan saransaransaran yang merupakan solusi terhadap masalah pencemaran lingkungan tersebut sebagai berikut:

I. Fakta:
1) Limbah Kelapa sawit berupa spent bleaching earth (SBE) yang berjumlah ribuan ton, yang diduga berasal dari Pabrik Kelapa Sawit di luar jawa, telah dibuang limbahnya di tiga lokasi: Desa Gandri Rojo Kec Sedan, Desa Sendang Mulyo Kec. Sluke dan Desa Sudan, Kec Kragan Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Limbah yang seharusnya dikelola dan diproses terlebih dahulu agar menjadi limbah yang ramah lingkungan, telah dibuang (illegal dumping) oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan telah menyebabkan rusaknya kesuburan tanah, mengakibatkan tanaman dan perkebunan disekitar limpahan limbah mati dan mengakibatkan ternak dan binatang lainnya sakit, tercemarnya air bersih dan mata pencaharian warga sekitar terganggu.

Dari hasil pengamatan sementara dan dari hasil pembuktian yang dilakukan oleh Pengadilan ada 3 pihak yang terlibat dan bertanggung jawab terhadap kasus pencemaran di Sluke Kab Rembang ini, yaitu:
Industri penghasil limbah : PT Multimas Nabati Asahan di Sumatera utara, salah satu group penghasil minyak sawit terbesar di Indonesia

Perusahaan Transportasi : PT Banteng Muda Trans ( Moda Darat) dan PT Citra Maritime (Moda Laut)

Perusahaan Pengelola lanjut : PT Farrar Putra Abrar.

See also  Saat Presiden Jokowi Ngabuburit Bagikan Bansos di Sejumlah Pasar di Bogor

2) Bisnis Kelapa Sawit adalah komoditas andalan Indonesia dan pemain utama penghasil minyak kelapa sawit dunia. Dari total pasar minyak sawit dunia sebesar 76 juta ton (2021), Indonesia memiliki pangsa pasar 58 % (44 juta ton) kemudian diikuti Malaysia dengan pangsa pasar 25 % (18,7 Juta ton) dan sisanya 17 % dibagi oleh 8 negaranegara lainnya.

Spent bleaching earth (SBE) sebagai media untuk pembersih minyak sawit dari impurities (kotoran) dibutuhkan dengan jumlah 1s/d 1,1% dari seluruh produksi minyak sawit yang dihasilkankan. Artinya pada tahun 2021 limbah SBE yang di hasilkan oleh industri kelapa sawit berjumlah 440.000 ton setiap tahun yang membutuhkan penanganan dan pengelolaan yang baik supaya tidak mencemari lingkungan. Dan jumlah ini diperkirakan akan semakin meningkat, sering dengan peningkatan produksi minyak kelapa sawit.

3) Dalam rangka efisiensi dan peningkatan daya saing komoditas industri kelapa sawit ini, Pemerintah telah menetapkan PP No 22 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Lingkungan Hidup, dengan melakukan kebijakan delisting untuk limbah SBE dari penetapan limbah B3 menjadi limbah Non B3.

Pertimbangan yang digunakan untuk melaksanakan delisting limbah SBE dari limbah B3 menjadi limbah Non B3 adalah:
Dengan menggunakan proses produksi yang berkelanjutan (circular economy atau bio circular economy), Limbah SBE merupakan komoditas yang dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tinggi (recycle, upcycle dsb), sehingga perusahaan akan mengolah limbah SBE dengan produktif.

Pihak pelaku usaha sudah menyampaikan komitmennya agar pelaksanaan produksi yang berkelanjutan dalam penanganan SBE dapat dilaksanakan. Pihak Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) bahkan pernah menyampaikan bahwa dengan teknologi solvent extraction, kandungan minyak dalam SBE dapat direduksi sampai ketingkat yang ramah lingkungan dan hasil pengolahan limbahnya dapat digunakan untuk bahan bangunan, semen, pupuk, bahan baku bio diesel dan sebagainya.
Penetapan limbah SBE sebagai limbah B3 mengakibat ongkos produksi minyak sawit Indonesia lebih tinggi 3 % dibandingkan dengan Malaysia sebagai kompetitor. Karena penetapan limbah B3 akan mengakibatkan kenaikan produksi mulai dalam penempatan, pengangkutan dan pengolahan limbah B3 yang tinggi, dibandingkan dengan perlakuan sebagai limbah non B3.

See also  Lakukan Terobosan, Terminal LPG Tanjung Sekong Jadi Pioneer Efisiensi Energi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*